Navigasi

Menulis Mengurangi Stres: Ceritaku Tumbuh Bersama IIDN

 

Anniversary IIDN


Aku bukan penulis handal. Aku pun belum memiliki banyak prestasi, tetapi aku ingin terus meningkatkan keterampilanku menulis serta terus mengasah kognitifku agar tidak terpendam jauh karena rutinitasku sebagai ibu rumah tangga. Karena itu, aku ingin mencari wadah yang bisa menampung keinginanku itu.


Ada banyak wadah yang bisa digunakan oleh penulis receh sepertiku. Mereka menyediakan tempat bagi orang sepertiku untuk berbagi cerita dan pengalamannya. Kulihat di sana mereka sering mengadakan kegiatan secara offline juga. Nama tempat itu adalah IIDN singkatan dari Ibu-ibu Doyan Nulis.

SPIL Bukan Cuma Logistik: Komitmen ESG di Balik Puluhan Kapal Container

Shipping


Pernahkah temanan-teman naik kapal? Kalau teman-teman naik kapal, pernahkah terlintas di benak teman-teman berapa banyak sih isi kapal itu? Kok bisa kapal membawa banyak mobil dan barang? Apa tidak akan tenggelam di tengah laut?


Dulu, saya pernah memikirkan hal itu. Sampai lama juga saya memperhatikan kapal yang memasukkan mobil-mobil truk besar, tronton, peralatan berat di dalamnya. Kata ayah dulu, kapal angkutan seperti itu muatan nya banyak, bukan kayak perahu yang ada di desa nenek saya, yang hanya bisa menampung 3/4 orang saja.

Konsistensi Menulis: Perjuangan dan Kemanfaatan di Bulan Puasa

Menulis
Foto oleh energepic.com: https://www.pexels.com/

Kadang saya suka iri dengan seorang yang kondisi keluarganya tergolong kurang mampu secara ekonomi, tetapi tidak mau berutang. Kadang, saya juga suka iri dengan orang yang terus menulis tanpa dibayar. Kadang, saya iri dengan orang yang berhasil ikut berbagai event menulis dengan konsisten. Lalu, saya bertanya sendiri,"Kenapa saya tidak seperti mereka?"


Pertanyaan menggelitik itu kadang hadir tanpa diminta dan memerlukan jawaban dari diri ini. Pertanyaan yang membuat saya menggigit jari karena ketidaktahuan alasannya. Alasan klasik seperti kelelahan tidak bisa diterima akal. Orang yang punya kerjaan banyak saja bisa terus menulis dengan konsisten, masa' kamu tidak bisa? Tuh, kan bertanya lagi!

Menulis: Ibadah dan Kontribusi untuk Diri dan Masyarakat

 

Menulis

Menulis adalah kegiatan menggunakan salah satu anggota tubuh, yaitu tangan ini telah ada sekitar tahun 3000 SM. Pada saat itu bangsa Sumeria mencari alat bantu untuk pencatatan transaksi perdagangan dengan menggunakan aksara paku. Lalu, perkembangan tulis menulis ini terus berkembang hingga sekarang dan digunakan oleh berbagai wilayah di dunia.


Menulis menjadi kegiatan yang menghasilkan sesuatu simbol dan mengandung maksud tertentu. Menulis menggunakan segenap pikiran dan perasaan. Hasil dari cipta dan karsa dari menulis ini bisa dipahami oleh orang sekitar. 

Menulis: Cara Saya Menikmati Hidup dan Mengasah Diri

 

Blogger. Foto oleh Tony Schnagl: https://www.pexels.com/

Menulis bukan sudah lama kutekuni, tetapi seringnya aku keteteran dengan rutinitaskku sebagai seorang IRT. Sejak aku mulai membeli sebuah domain pribadi, aku memang berniat mengaktifkannya. Sayangnya, niat itu kadang timbul, kadang tenggelam.


Maka ketika ada sebuah event, aku menargetkan untuk diriku agar bisa ikut meskipun tertatih. Tidak banyak yang bisa kulakukan dari sebuah blog, yaitu menulis dengan kemampuan apa adanya. Keilmuan menulis yang sangat dangkal tidak menghalangiku untuk turut serta dalam kegiatan menulis yang menurutku pantas diikuti.

Mengenal ASUS V400 AiO, PC Layar untuk Produktivitas dan Kreativitas

ASUS V400 AiO


Perkembangan teknologi komputer dari tahun ke tahun mengalami perubahan. Di masa SMA sampai kuliah, personal computer (PC) tabung menjadi sesuatu yang mewah. Tidak semua mahasiswa memilikinya hingga muncullah tempat yang disebut 'rental komputer'. Kemudian meredup karena laptop mulai menunjukan keeksistensiannya.

Meskipun laptop mulai dicari pada saat itu, PC masih tetap bertahan dan pada kenyataannya lebih awet. Sampai sekarang, keawetan PC sudah terbukti dan di beberapa rumah masih konsisten memakai PC. Terbukti, di rumah ayah, PC masih oke digunakan.

Ginidok: Dokter Lebih Fokus, Pasien Lebih Nyaman

Ginidok


Pernah lihat dokter sibuk mencatat, lalu mengambil tindakan kepada pasien? Ah, tentu saja kejadian seperti itu tidak sekali dua kali kita lihat. Apalagi kalau sering bolak-balik ke rumah sakit buat periksa atau berobat. Keadaan seperti itu akan kita temui. Kondisi seperti itu kadang bikin pasien kesal juga loh. Eh, iya, dokternya jadi enggak fokus dengan kita. Alih-alih mengurusi pasien, malah sibuk sendiri dengan perkara administratifnya.


Teman-teman, saya bukanlah seorang dokter. Saya adalah pasien yang sering bolak-balik bertemu dengan dokter untuk berobat. Seringnya sih, saya mengajak anak-anak berobat ke klinik. Maklum pada usia anak sekolah SD, masalah kesehatan seperti demam, batuk, pilek sudah menjadi penyakit yang sering mampir kepada anak-anak.

Menulis Mengurangi Stres: Ceritaku Tumbuh Bersama IIDN

  Aku bukan penulis handal. Aku pun belum memiliki banyak prestasi, tetapi aku ingin terus meningkatkan keterampilanku menulis serta terus m...